Menyaksikan Kekerasan: Kesaksian Langsung Penindasan Mematikan di Iran

Menyaksikan Kekerasan: Kesaksian Langsung Penindasan Mematikan di Iran

Eyewitnesses dan Suara dari Jalanan

Omid, seorang warga Iran berusia awal 40-an, menceritakan pengalamannya dengan suara gemetar. Ia menyaksikan pasukan keamanan menembaki para pengunjuk rasa yang tak bersenjata. “Kami melawan rezim brutal dengan tangan kosong,” katanya. Keberanian Omid untuk berbicara menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi siapa pun yang mencoba melaporkan situasi di Iran.

Aksi protes nasional terbesar terjadi pada Kamis, malam ke-12 demonstrasi. Banyak orang turun ke jalan setelah panggilan Reza Pahlavi, putra eksil Shah Iran terakhir. Namun, hari Jumat berubah menjadi kebrutalan yang tak terbayangkan.

Supreme Leader Iran, Ali Khamenei, menegaskan: “Republik Islam tidak akan mundur.” Pernyataan ini tampaknya menjadi titik balik peningkatan kekerasan dari pasukan keamanan dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Kekerasan di Jalanan dan Kehilangan Moral

Seorang wanita muda dari Teheran menggambarkan Jumat itu sebagai “hari penghakiman”. Ia melihat kerumunan besar di seluruh penjuru kota, bahkan di wilayah terpencil. Namun, tindakan pasukan keamanan hanya menembak dan membunuh.

“Ini perang satu sisi. Mereka memiliki senjata, kami hanya berteriak,” tambahnya.

Kota Fardis, dekat Teheran, menjadi saksi kekejaman paramiliter Basij. Mereka menyerang pengunjuk rasa setelah jam-jam sepi, menembaki warga tanpa ampun. Mobil tak bertanda digunakan untuk menyasar warga sipil yang tidak terlibat demonstrasi.

Tabel berikut menggambarkan perkiraan korban berdasarkan laporan lokal:

KotaPerkiraan Korban (Orang)Catatan
Teheran200-300Tubuh ditumpuk di rumah sakit, banyak keluarga tak mendapat informasi
Mashhad180-200Tubuh dibawa sebelum fajar, segera dikubur
Rasht70Korban di RS, keluarga harus membayar “biaya peluru” untuk mendapat jasad
Fardis50+Basij menyerang setelah jam sepi, warga ketakutan

Ketidakjelasan Data dan Kesulitan Liputan

Media internasional tidak dapat bekerja bebas di Iran. Laporan angka kematian dari sumber resmi sangat terbatas, sementara perkiraan organisasi hak asasi manusia di luar negeri, Iran Human Rights (IHRNGO), menyebut setidaknya 648 korban, termasuk 9 anak di bawah 18 tahun.

Warga kecil dan kota-kota terpencil sulit mengakses jaringan internet Starlink, sehingga informasi dari sana minim. Meski begitu, keseragaman laporan dari berbagai kota menunjukkan tingkat kekerasan yang parah.

Rumah Sakit dan Krisis Medis

Para perawat dan tenaga medis menyebut rumah sakit kewalahan menerima korban. Banyak pasien menderita luka parah di kepala dan mata, sementara beberapa tubuh ditumpuk tanpa bisa diserahkan ke keluarga. Video yang diverifikasi menunjukkan jasad menumpuk di Kahrizak Forensic Medical Centre.

Relatives terlihat mencoba mengidentifikasi korban dari foto. Beberapa video menampilkan truk yang dibongkar untuk menaruh tubuh, dan beberapa tubuh dibungkus kantong hitam di fasilitas maupun jalanan.

Reaksi Internasional

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengaku terkejut oleh laporan kekerasan berlebihan terhadap para pengunjuk rasa.

Media pemerintah Iran melaporkan 100 personel keamanan tewas, sementara para pengunjuk rasa disebut melakukan pembakaran masjid dan bank. Video menunjukkan kendaraan polisi dan beberapa gedung pemerintah terbakar di berbagai lokasi.

Meski angka resmi sulit diverifikasi, konsistensi dan kesamaan kesaksian dari Teheran, Karaj, Rasht, Mashhad, dan Shiraz menunjukkan skala kekerasan yang sangat luas.

Kesimpulan

Kesaksian warga Iran memperlihatkan perang satu sisi antara rezim dan rakyat yang menuntut perubahan. Meskipun risiko sangat tinggi, mereka tetap berani menyuarakan ketidakadilan. Dunia internasional terus memantau, namun informasi masih sangat terbatas, khususnya dari kota kecil. Kekejaman yang terjadi menuntut perhatian global dan solidaritas terhadap para korban dan keluarga.

Aksi Protes Menentang Kebijakan Imigrasi Trump

Bergema di Boston: Aksi Protes Menentang Kebijakan Imigrasi Trump

Suara Solidaritas di Tengah Tindakan Federal

Suara dukungan untuk imigran bergema di Boston City Hall Plaza. Demonstran berkumpul pada hari Kamis untuk membuat suara mereka didengar. Mereka menyuarakan kemarahan atas langkah federal baru. Langkah-langkah itu termasuk jeda aplikasi imigrasi dari 19 negara. Negara-negara yang terkena dampak antara lain Afghanistan, Kuba, dan Venezuela. Presiden Dewan Kota Boston, Ruthzee Louijeune, hadir dalam aksi tersebut. Dia mengajak warga untuk tidak mati rasa. “Kita tidak boleh menormalisasi tindakan presiden ini,” ujarnya dengan tegas. Sekitar 1,4 juta pemegang green card dan pemohon kewarganegaraan diperkirakan terkena dampaknya. Aksi ini menunjukkan gelombang penolakan yang semakin kuat.

Kebijakan Kontroversial yang Memicu Kemarahan

Pemerintah Trump menerapkan beberapa kebijakan imigrasi yang kontroversial. Kebijakan ini menjadi pemicu utama aksi protes di Boston. Salah satunya adalah penghentian sementara aplikasi dari 19 negara. Kebijakan ini secara langsung mempengaruhi jutaan orang yang menunggu kesempatan di Amerika. Selain itu, pemecatan lebih dari 100 hakim imigrasi juga menuai kecaman. Mereka akan diganti dengan apa yang pemerintah sebut sebagai “hakim deportasi”. Padahal, kasus imigrasi di seluruh negeri sudah menumpuk hingga hampir 4 juta kasus. Akibatnya, proses hukum menjadi semakin lambat dan tidak adil.

Di hari yang sama dengan aksi protes, kebijakan baru lainnya diumumkan. Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS) mengurangi izin kerja. Pengungsi dan pencari suaka sekarang hanya bisa mendapatkan izin kerja selama 18 bulan. Sebelumnya, izin tersebut berlaku selama lima tahun. Agensi menyatakan perubahan ini memungkinkan pemeriksaan lebih sering. Mereka juga mengklaim ini membantu mencegah penipuan. Namun, para aktivis menilai ini sebagai langkah untuk mempersulit kehidupan para pencari suaka.

Kebijakan
Dampak Utama
Jeda aplikasi dari 19 negaraMembatasi akses legal bagi jutaan pemohon
Pemecatan hakim imigrasiMeningkatkan backlog kasus dan mengurangi proses yang adil
Pengurangan izin kerja pengungsiMenciptakan ketidakpastian ekonomi bagi pencari suaka

Suara-suara dari Kerumunan: Kisah dan Kekhawatiran

Di antara kerumunan demonstran, banyak kisah pribadi yang mengharukan. Doris Landaverde, seorang pemegang Status Perlindungan Sementara (TPS) dari El Salvador, ikut berbicara. Dia mengungkapkan kekhawatirannya jika TPS dihentikan tahun depan. “Saya tidak takut untuk berbicara dan berbagi kisah saya,” katanya. “Saya percaya ini sangat penting untuk mengubah narasi buruk tentang komunitas imigran.” Keberaniannya mewakili banyak orang yang hidup dalam ketidakpastian.

Presiden Donald Trump sebelumnya meningkatkan ketegangan dengan pernyataannya. Dia mengomentari imigran dari Somalia dengan kata-kata yang keras. “Ketika mereka datang dari neraka… kita tidak ingin mereka di negara kami,” ucapnya. Pernyataan ini semakin menyulut emosi dan kekhawatiran akan diskriminasi. Tindakan penegakan hukum terbaru di Massachusetts juga memperkuat urgensi aksi ini. Kasus penargetan pekerja cuci mobil hingga deportasi mahasiswa menjadi buktinya.

Louijeune, yang juga seorang pengacara, menyoroti degradasi institusi. “Saya belum pernah melihat tingkat degradasi institusi seperti ini,” katanya. “Ini melawan apa yang kita pahami sebagai proses hukum yang adil.” Martha Karchere, seorang warga lokal, hadir karena rasa peduli. “Saya ingin di sini untuk menunjukkan bahwa saya peduli,” katanya sambil berdiri di tengah kerumunan. Solidaritas seperti inilah yang menjadi fondasi dari perlawanan di Boston.