Suara Solidaritas di Tengah Tindakan Federal
Suara dukungan untuk imigran bergema di Boston City Hall Plaza. Demonstran berkumpul pada hari Kamis untuk membuat suara mereka didengar. Mereka menyuarakan kemarahan atas langkah federal baru. Langkah-langkah itu termasuk jeda aplikasi imigrasi dari 19 negara. Negara-negara yang terkena dampak antara lain Afghanistan, Kuba, dan Venezuela. Presiden Dewan Kota Boston, Ruthzee Louijeune, hadir dalam aksi tersebut. Dia mengajak warga untuk tidak mati rasa. “Kita tidak boleh menormalisasi tindakan presiden ini,” ujarnya dengan tegas. Sekitar 1,4 juta pemegang green card dan pemohon kewarganegaraan diperkirakan terkena dampaknya. Aksi ini menunjukkan gelombang penolakan yang semakin kuat.
Kebijakan Kontroversial yang Memicu Kemarahan
Pemerintah Trump menerapkan beberapa kebijakan imigrasi yang kontroversial. Kebijakan ini menjadi pemicu utama aksi protes di Boston. Salah satunya adalah penghentian sementara aplikasi dari 19 negara. Kebijakan ini secara langsung mempengaruhi jutaan orang yang menunggu kesempatan di Amerika. Selain itu, pemecatan lebih dari 100 hakim imigrasi juga menuai kecaman. Mereka akan diganti dengan apa yang pemerintah sebut sebagai “hakim deportasi”. Padahal, kasus imigrasi di seluruh negeri sudah menumpuk hingga hampir 4 juta kasus. Akibatnya, proses hukum menjadi semakin lambat dan tidak adil.
Di hari yang sama dengan aksi protes, kebijakan baru lainnya diumumkan. Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS) mengurangi izin kerja. Pengungsi dan pencari suaka sekarang hanya bisa mendapatkan izin kerja selama 18 bulan. Sebelumnya, izin tersebut berlaku selama lima tahun. Agensi menyatakan perubahan ini memungkinkan pemeriksaan lebih sering. Mereka juga mengklaim ini membantu mencegah penipuan. Namun, para aktivis menilai ini sebagai langkah untuk mempersulit kehidupan para pencari suaka.
Suara-suara dari Kerumunan: Kisah dan Kekhawatiran
Di antara kerumunan demonstran, banyak kisah pribadi yang mengharukan. Doris Landaverde, seorang pemegang Status Perlindungan Sementara (TPS) dari El Salvador, ikut berbicara. Dia mengungkapkan kekhawatirannya jika TPS dihentikan tahun depan. “Saya tidak takut untuk berbicara dan berbagi kisah saya,” katanya. “Saya percaya ini sangat penting untuk mengubah narasi buruk tentang komunitas imigran.” Keberaniannya mewakili banyak orang yang hidup dalam ketidakpastian.
Presiden Donald Trump sebelumnya meningkatkan ketegangan dengan pernyataannya. Dia mengomentari imigran dari Somalia dengan kata-kata yang keras. “Ketika mereka datang dari neraka… kita tidak ingin mereka di negara kami,” ucapnya. Pernyataan ini semakin menyulut emosi dan kekhawatiran akan diskriminasi. Tindakan penegakan hukum terbaru di Massachusetts juga memperkuat urgensi aksi ini. Kasus penargetan pekerja cuci mobil hingga deportasi mahasiswa menjadi buktinya.
Louijeune, yang juga seorang pengacara, menyoroti degradasi institusi. “Saya belum pernah melihat tingkat degradasi institusi seperti ini,” katanya. “Ini melawan apa yang kita pahami sebagai proses hukum yang adil.” Martha Karchere, seorang warga lokal, hadir karena rasa peduli. “Saya ingin di sini untuk menunjukkan bahwa saya peduli,” katanya sambil berdiri di tengah kerumunan. Solidaritas seperti inilah yang menjadi fondasi dari perlawanan di Boston.